Di sebuah pameran buku di Bandung, Damar salah mengambil buku yang sedang Sekar baca. Pertengkaran kecil soal buku itu berakhir dengan tukar nomor telepon — dan janji untuk berdebat lagi di lain waktu.
Dari teman diskusi menjadi teman makan siang, lalu teman pulang. Kami tidak sadar kapan tepatnya rasa itu berubah, sampai suatu hari Damar berkata bahwa harinya terasa kurang tanpa kabar dari Sekar.
Setelah melewati jarak dan kesibukan masing-masing, kami duduk bersama dan memutuskan satu hal: tidak ada lagi setengah-setengah. Semua rencana mulai ditulis berdua, di atas kertas yang sama.
Di rumah makan kecil tempat kencan pertama kami, Damar mengeluarkan cincin yang ia simpan berbulan-bulan. Sekar menjawab sebelum pertanyaannya selesai — karena jawabannya sudah lama ia ketahui.




